Labels

My Fan Page

Translate

Perspektif Berbeda : Q.S. An-Nuur ayat 26

Sabtu, 30 Mei 2015
Posted by Jurnalistika Febra Ariella



Telah tertulis dalam kitab Allah sejak lama, bahwa perempuan yang baik diciptakan untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Kita semua percaya, kita semua meyakini, seolah memberikan sebuah perspektif bahwa menjadi baik adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan seseorang yang baik.

Pertanyaan kontra telah terngiang di dalam benak saya, bertahun-tahun lamanya sejak pertama kali mendengar ayat ini. Jika yang baik hanya untuk yang baik dan yang buruk untuk yang buruk apa bedanya dengan konsep yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin? Sebuah kesenjangan pun mungkin akan terjadi. Mulai dari perspektif sederhana yang dianut oleh sebagian besar manusia, hingga menjadi sebuah keinginan untuk dapat memiliki kesempurnaan.

Sebuah pemikiran kecil di dalam benak saya, mengapa seseorang yang sudah menganggap dirinya sangat baik tidak menikahi perempuan yang kurang baik saja? Sehingga kelak dia bisa membimbingnya menuju kebaikan, mengamalkan ilmu yang dimilikinya, menyeimbangkan kebaikan di muka bumi ini, sehingga tercapai sebuah kestabilan.  Sebaliknya, untuk perempuan yang telah merasa “sempurna” mengapa ia tidak mencari seorang lelaki yang butuh dukungannya untuk menuju kebaikan saja?


Entah hanya saya yang memikirkan hal ini atau ada orang di luar sana memikirkan hal yang sama. Menurut saya, orang-orang sedang berlomba menjadi orang yang sempurna. Tidak salah, justru bagus, namun sayangnya sebagian dari mereka melakukannya dengan harapan mendapatkan pasangan yang baik pula. Tentu saja, semua orang mendambakan pasangan yang baik. Namun mana yang lebih baik, menjadi baik untuk mendapatkan yang baik atau menjadi baik untuk menyeimbangkan ketidakbaikan? :D

Menjatuhkan Untuk Kemenangan

Sabtu, 05 Juli 2014
Posted by Jurnalistika Febra Ariella
http://www.leadernetworks.com/wp-content/uploads/2013/12/failure.jpg

Hai guys, lama nggak nulis jadi kangen dan lupa gimana cara nulis yang baik. Apalagi sejak gua ambil suatu mata kuliah yang berteori bahwa “nulis itu nggak perlu panjang atau dipanjang-panjangin yang penting ngena di pembaca”, gua jadi mikir dua kali untuk nulis, karena biasanya gua gitu, ahaha. Well, karena ingin mengembalikan kebiasaan balik yang biasa gua lakukan dulu, jadi gua mulai lagi deh mulai hari ini.

 Hai Indonesia, cieee sebentar lagi mau ditinggal pak SBY dan punya pemimpin baru :’’’) semoga cepet move on ya dari segala masalahnya yang kelam dengan sosok pemimpin yang baru :)

Akhirnya, selesai juga ya masa kampanye yang entah kenapa gua ngerasa kok lama banget *apa ini perasaan gua doang ya, haha*. Setiap hari, diberbagai tempat, orang-orang mengeluh-eluhkan pemimpin yang mereka dambakan. It’s okay namanya juga kampanye ya kan :)

Well, entah kenapa  pemilu kali ini terasa sangat panas. Jangankan di sosmed atau TV, di rumah gua pun ikut-ikutan panas, haha. Walaupun konteks panasnya berbeda. 

Satu hal yang gua suka dari orang-orang yang udah menentukan pilihannya di awal atau at least tengah masa kampanye adalah mereka setia dengan pilihannya. Berbeda sama pemilih yang belum menentukan pilihannya atau pemilih yang masih galau siapa yang lebih baik jadi ganti-ganti pilihan setiap saat. Kalo gua liat sih pemilih seperti ini yang akhirnya menimbulkan peluang kampanye hitam dan kampanye negatif. Walaupun nggak sepenuhnya gitu sih, mungkin juga timbul karena sang pemilih yang udah cinta mati sama pilihannya mau dia menang dan akhirnya menunjukan kelemahan atau bahkan memberitakan ketidakbenaran calon lainnya.

Sedih nggak sih lo ngeliatnya? Kalo gua sih jujur sedih banget. Padahal lagi momentum piala dunia dan ramadhan, di mana biasanya rasa kekerabatan dan kekeluargaan sangat terjalin akrab :’’ eits malahan ada kampanye yang menjatuhkan. Sometimes gua berpikir, guys, apa yang sebenernya lo harapkan jika calon lawan lo terlihat hina? Berharap pemilih yang belum menentukan pilihan bisa melihatnya dan kemudian memilih calon yang lo banggakan atau bahkan berharap ada calon pemilih lawan yang kemudian beralih pilihan? Tapi kenapa harus menjatuhkan?

Mau calon A, calon B, ada aja berita buruknya. Mantau di sosmed, ada pula temen-temen gua (mahasiswa loh padahal) yang ikut andil menjelekan, ya itu hak lo sih tapi kan kesannya gimana ya. Katanya ingin memberitahukan hal-hal buruk untuk pencegahan tapi kenapa beritanya nggak disaring dulu, malah menimbulkan fitnah.

Guys, let me tell you what I’m thinking. Sadar nggak sih lo, Tuhan udah menentukan nasib Indonesia untuk 5 tahun ke depan, ada case A,B,C,D,E and so on. Tinggal memilih sebenernya jalan mana yang tergantung dari pemimpin yang terpilih nantinya. Pun, sebenarnya, gua percaya bahwa Tuhan udah menentukan siapa pemimpin kita 5 tahun kedepan (pemenang pemilu tahun ini). Jadi, mau sekeras apapun usaha lo, jika Tuhan tidak merestui, mustahil. 

Udahlah yuk, daripada melihat menjatuhkan calon atau melihat kejelekannya. Lebih baik lihat track recordnya, kebaikan yang ada pada dirinya yang sekiranya bisa membawa bangsa ini pada perubahan, literally perubahan bukan sekedar wacana untuk berubah. Karena ketika lo melihat seseorang dari ketidaksempurnaannya, lo nggak berhak untuk menyimpulkan bahwa orang lain lebih baik darinya. Lo cuma bisa bilang orang itu memiliki kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan tidak berarti orang lain tersebut lebih baik darinya. Maaf sebelumnya, kalo dianalogikan seperti difabel, mereka memiliki kekurangan tapi bukan berarti orang yang normal lebih baik darinya kan? Hanya lebih beruntung, mungkin.

Jadi, yuk, hentikan memandang dari sisi negatif. Cobalah berbesar hati jika memang calon lawan memiliki track record yang lebih baik, tidak perlu melihatnya menjadi buruk karena sifat difensif kita terhadap sang calon pujaan. Kalo emang udah menentukan keputusan akhir akan milih siapa nanti, yaudah keep it by yourself. Kalo mau kampanye *sayangnya sekarang udah nggak boleh* ya cukup unggulkan kelebihan calon pilihan kamu nggak perlu menjatuhkan calon lawan.
Selamat menanti 9 Juli 2014, selamat menunggu unpublished pemimpin Indonesia yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Semoga, Indonesia masih direstui untuk mendapatkan pemimpin yang membawa negeri ini pada kebaikan :)  

Klik untuk sumber gambar.

Which one are you?

Senin, 23 Desember 2013
Posted by Jurnalistika Febra Ariella

Halo, gua mau berbagi sedikit hasil bacaan tentang psikkologi kepribadian nih. Refrensi gua adalah buku “Psikologi Kepribadian” yang ditulis oleh Drs.Petrus Sardjonoprijo. Sebenernya ada banyak sih yang dibahas di dalam buku ini, cuma gua hanya akan membahas Typologi Kretschmer dan Typologi Spranger aja. Karena ini baru pertama kali gua kenal (karena gua bukan anak psikologi kali ya makanya belum pernah denger ini sebelumnya), ya siapa tahu kalian juga pertama kali denger dan pingin tau lebih lanjut. Terutama untuk kalian yang males baca buku psikologi yang (pecaya gua) isinya penuh dengan permaian kata yang muter-muter.

Well, langsung aja kita bahas Typologi Kretschmer.

Kretschmer adalah seorang psikiater Jerman yang membagi tempramen seseorang berdasarkan bentuk tubuhnya. Kretschmer menuliskannya ke dalam bukunya yang berjudul “Koperbau und Charakter” atau dalam bahasa artinya “Bentuk badan dan watak”. Cuma yang akan lebih banya disini adalah tipe wataknya aja karena bentuk badan-nya memang terlalu general dan kurang jelas, jadi gua takut salah untuk menafsirkan dan nanti malah mengubah teori lagi :) kalo mau tau banget mungkin bisa browsing atau baca langsung bukunya.

Cyclothym
Tipe cyclothym mempunyai cirri khas yaitu menunjukan kegembiraan secara meluap-luap dan kesedihannya secara mendalam. Mereka adalah orang yang mudah tersinggung dan nervous, namun mempunyai rasa humor dan moody.
Tipe ini merupakan orang yang mudah tersentuh perasaannya namun tidak mendalam. Contohnya, dia akan mudah marah tapi kalo udah marah ya langsung lupa nggak dimasukin ke hati. Perasaan disini maksudnya nggak selalu kehal yang kebaikan atau melankolis ya :) hal ini karena mereka moody juga jadi perasaan mereka cepet berubah.
Pada umumnya cyclothym bersifat extravert , perhatian yang ditunjukannya kepada lingkungan sekitar bersifat objektif dan realistis. Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, berani memulai sesuatu namun mereka terkadang gegabah dan memiliki sifat deressif terkadang.
Masalah pergaulan dengan manusia lainnya, tak usah ditanyakan lagi cyclothym adalah ahlinya. Mereka dapat dengan mudah menjalin kontak dan suka bergaul, mudah untuk menceritakan sesuatu tentang dirinya kepada orang lain. Memiliki sifat yang ramah dan sabar serta suka menolong, meskipun terkadang suka menampakan keegoisannya.
Umumnya, cyclothym adalah orang-orang popular yang punya banyak kenalan sekalipun ada tipe ini yang sedikit pendiam, namun tetap tidak meutup diri pada pergaulan. Mereka mengarahkan pandangannya pada hal yang riil dan kongkrit. Keputusan mereka selalu disesuaikan dengan situasi, terkadang cenderung oportunis. Biasanya merupakan orang-orang yang bergelut dibidang ekonomi, politik, kedokteran dan sebagainya.
Orang cyclothym berpikiran dinamis dan cepat, terbuka pada kritik dan saran serta dapat dengan mudah membuat keputusan. Kesadaran jiwanya besar namun dapat juga dangkal pemikirannya, karena terlalu sedikit pertimbangannya dan bersifat asosiatif.
Gologan ini bersifat empiris, pengamat yang baik. Mereka dapat memberikan gagasan baru (kaya akan penemuan) namun terkadang kurang jelas dan kurang sistematis Sehingga cara pikirnya “merangkum banyak (luas) namun tidak mendalam”. Perhatiannya dinamis dan distributif, mereka terbiasa untuk multitasking dan sulit untuk fokus pada satuhal.

Schizothym
Diantara golongan schizothym terdapat dua kelompok kutub, yaitu orang yang perasaannya mudah tersentuh dan yang sukar. Berbeda dengan cyclothym, schizothym memiliki perasaan yang mendalam dan dapat bertahan lama. Oleh sebab itu mereka cenderung terlalu perasa dan mudah tersinggung, bersifat defensive. Dari luar akan terlihat dingin, serius, tegang dan nervous.
Orang yang memiliki tipe ini kerap kali terburu-buru dan tidak tenang, reaksinya kerapkali lemah. Mereka mudah tersinggung namun dapat menahan diri (menahannya dalam hari). Mereka tertutup dan tak terlalu banyak menjalin kontak dengan orang lain, senang menyendiri. Ide-ide yang mereka keluarkan seringkali berbeda dan menyimpang dari pendapat umum. Perasahabatan yang mereka jalin akan mudah retak.
Meskipun schizothym mudah tergerak atas penderitaan (simpati) namun rasa empati mereka tidak terlalu besar. Pertolongan yang mereka berikan lebih berdasarkan atas suatu ide, prinsip dibandingkan dengan perasaan spontannya. Untuk berkompromi dengannya bukanlah hal yang mudah, karena mereka terlalu subjektif, kurang sabar dan kurang dapat menerima sesuatu yang tidak serasi dengan pendapatnya. Mereka susah untuk menyesuaikan diri.
Schizothym tertarik pada hal-hal yang teoritis misalnya ilmu eksak dan filsafat namun ada juga yang tertarik pada seni. Mereka tidak mudah untuk melakukan sesuatu, tapi tekun dan teliti. Sebagian dari mereka ada yang perhatian terhadap persoalan disekitarnya namun ada juga yang tidak sama sekali.
Tipe pemikir tangkas dan lambat. Cara berpikirnya abstrak dan analitis. Perhatiannya terlalu sempir dan mengarah pada satu objek tertentu, oleh sebab itu ia fokus namun terkadang terlalu kaku.

Viskues
Umumnya viskues merupakan orang-orang yang tenang dan seimbang, orang-orang flegmatis. Perasaannya sulit untuk disentuh, namun jika sudah tersentuh akan mendalam. Penuh dengan penghayatan, tetap tenang dan tidak mudah panik. Lambat dalam pergerakan dan hemat. Bila perasaannya terluka dalam ia akan sangat marah.
Bagi viskues akan sulit untuk menyesuaikan diri, mereka orang yang introvert dan pasif. Mereka dapat memiarkan orang lain bertindak menurut jalannya sendiri dan lebih senang bersama sahabat dekatnya.
Perhatiannya sangat sempir, kesenangannya mengarah pada kebiasaan tetap dan tradisi, bersifat setia dan tekun. Tempo berpikirnya lambat namun tanggapannya melekat kuat. Cara berpikirnya konsisten, berpikir dengan matang dan berhati-hati.  Kebanyakan dari mereka tidak terlalu kratif dalam berpikir dan tidak cocok jika menjadi pemimpin.

Selesai. Yap, itulah Typologi Kretschmer. Sekarang kita akan lanjut kepada ilmu psikologi yang kedua yaitu Typologi Spranger.

Spranger mengklasifikasikan sikap seseorang yang mengarah kepada nilai kebudayaan tertentu yang memegang peranan dominan. Menurutnya, jika sikap mengarah pada hal yang memegang dominasi maka akan berpengaruh pada sikap lainnya juga. Typologi Stranger berujuk pada psikologi yang bersifat geisteswissensohaftlich, yaitu mempelajari sikap rohani manusia terhadap kebudayaan dan nilai-nilainya dengan menggunakan metode verstehen.

Manusia Teoritis
Tujuan utamanya adalah mengetahui objektivitas kebenaran. Ia akan mencari dalil-dalil umum dan hukum-hukum yang berlaku tanpa pengecualian. Hal-hal yang serba kebetulan, pribadi, individual maupun penilaian-penilaian subjektif akan disingkirkannya.  
Untuk orang yang serba ekonomis perhatiannya kurang terbuka. Ia juga tidak terlalu menyikai nnilai-nilai asthetis, kemampuannya mengarah pada hal yang umum dan abstrak. Baginya religi merupakan ajaran. Dibidang sosial, manusia teoritis adalah seorang individualis. Ia ingin selalu berpikir merdeka dan kritis tanpa mau dipengaruhi orang lain, sehingga mengasingkan diri adalah jalannya.
Manusia teoritikus tidaklah tepat untuk bidang politik. Mungkin ia merasa memiliki kekuasaan besar dibidang pengetahuan, namun tidak untuk menjalankan kekuasaan di dalam situasi kongkrit.

Manusia Ekonomis
Tujuan utamanya adalah manfaatkan sesuatu yang sudah ada. Perhatiannya terletak di dalam suasana materiil, ingin mendapatkan yang sebanyak-banyaknya dengan tenaga yang sedikit (hemat). Sifatnya praktis dan efisien.
Gologan ini kurang menghargai keindahan, segala hal akan terlihat indah jika dan hanya jika ekonomis. Seni hanya dihargainya untuk menanam modal. Terhadap agama, sikapnya utilaristis. Tujuan hidupnya hanyalah mendapatkan uang.
Mereka juga kurang sosial, cenderung egois. Perhatiannya kepada manusia-manusia lain hanya didasarkan atas kegunaan mereka baginya. Politik harus mengabdi kepada kepentingan ekonomisnya. Menurutnya kekuasaan memainkan penanan penting.s
Manusia Aesthetis
Tujuan utamanya adalah mencari keindahan. Bentuk dan harmoni adalah nilai-nilai tertinggi baginya. Mereka adalah subjektor terhadap hal-hal yang serba individual, konkrit dan terpandang mata. Dalam keagamaan pun golongan ini mencari penghayatan keindahan. Di dalam bidang sosial, ia seorang individualis.
Mereka tidak tepat untuk urusan politik. Ia terlalu subjektif dalam penilaian, tidak menyukai pertimbangan dan peraturan-peraturan umum yang menghalangi kebebasan individual. Jadi dalam hidupnya ia mengejak pemberian untuk keindahan, namun mereka tidak praktis.

Manusia Religius
Tujuan utamanya adalah nilai rohaniah tertinggi yang memberikan makana bagi seluruh kehidupannya. Namun hal ini dapat terjadi dengan berbagai jalan, jadi Spranger membaginya kedalam 3 tipe tambahan:
Mistikus immanent : memandang segala-galanya yang bernilai di atas bumi ini sebagai manifestasi dari illahi. Jadi ia mengambil sikap positif terhadap semua bidang kebudayaan.
Mistikus transcendent :memandang Tuhan dan dunia sebagai dua hal yang bertentangan dengan radikal. Menurutnya ilmu pengetahuan tak bermakna, kesenian hanyalah khayalanan belaka, segala sesuatu yang fana. Orang harus melepaskan diri dari segala-galanya dan matiraga dalam segala bidang.
Religius dualistis :berada ditengah-tengah kedua tipe diatas. Merasakan adanya pertentangan, namun ia tetap mendekati duniawi. Baginya, dalam segala bidang terdapat kebaikan namun juga mengandung kekurangan.

Manusia Sosial
Tujuan utamanya adalah mengorbankan dirinya untuk orang lain, tanpa berpikir akan mencari keuntungan ataupun kekuasaan. Cinta kepada sesama merupakan nilai tertinggi baginya. Oleh sebab itu suasana ilmiah tidak cocok dengan sikapnya, karena terlalu objektif dan tidak bersifat pribadi. Objektivitas yang dingin tidak menarik manusia sosial.
Mereka tergerak oleh kelemahan, kebutuhan dan pertolongan. Manusia sosial tidak suka akan kekuasaan kenegaraan dan politik karena baginya kekuasaan semacam itu merupakan factor-faktor yang tidak berkepribadian. Agama merupakan nilai yang dijunjungnya karena disitulah nilai manusia dan cintakasih memegang peranna penting.

Manusia Penguasa
Tujuannya adalah untuk menguasai dunia. “Pengetahuan adalah kekuasaan” itulah prinsipnya. Ilmu pengetahuan dijadikannya nafsu untuk berkuasa. Pengetahuan psikologis dan sosiaologis dipergunakan untuk merajai seseorang atau kelompok. Jika dibidang ekonomis jabatan digunakan untuk menghasilkan uang, pada golongan ini digunakan untuk kekuasaan.
Jiwa sosial sangat bertentangan dengan golongan ini dimana dalam sosial dikenal rasa mencintai dan mengabdi sedangkan pada golongan ini memiliki kecenderungan untuk memerintah. Agama merupakan hal yang berat baginya, bahkan politik merupakan segalanya.

Nah segitu aja ya, kalo lo mau tau lebih banyak lagi, silakan aja dicari dan di baca lebih lanjut bukunya. (ada kok di perpustakaan pusat UI hehe). Didalamnya dibahas banyak banget hal kok ada sifat biologis seseorang, karakter, pembagian hasrat manusia, tingkahlaku dan disposisinya dan karakterologi kehendak. Asalkan lo nggak merasa bosen aja di tengah jalan akan permainan kata-kata di dalamnya.
Ohya meskipun udah tau tentang pengklasifikasian kepribadian nih, saran gua sih jangan sampe stereotyping atau labeling orang lain ya. Karena sesungguhnya teori itu nggak seutuhnya benar (apalagi tentang manusia, who knows kan) hanya mendekati kebenaran. Semoga bermanfaat ;)

Limit - Haruskah Engkau Ada?

Minggu, 22 Desember 2013
Posted by Jurnalistika Febra Ariella


*Cerita ini hanya fiktif belaka, sebuah pemikiran tentang "Limit".*

Rutinitas setiap pagi, harus ke kampus, ngurusin berbagai hal terus pulang, dari senin sampe jumat nggak ada berhentinya. Seperti biasa, pagi ini gua beresin beberapa buku ke dalam tas (meskipun ada lebih dari satu tapi tetep aja bukunya punya judul yang sama, yaitu “Limit”) totalnya ada 4 buku. Dan seperti biasa lagi gua lupa untuk mempertimbangkan harus taro dimana laptop sebesar 14 inch yang harus banget gua bawa setiap hari, akhirnya gua keluarin tiga buku bertuliskan “Limit” di depannya dan memasukan laptop gua ke dalam tas.

Setelah semua siap, gua pun langsung bergegas berangkat karena gua tau waktu gua nggak banyak. Yap, hampir setiap hari gua nyaris telat masuk kelas tapi untungnya gua selalu menjadi orang terakhir yang masuk kelas. Entah kenapa seolah batas selalu berpihak kepada gua. Nah, pas banget kan nih sama matkul gua yang lagi ngebahas limit (batas), entah kenapa semua hal yang ada disemesta seolah membuat gua untuk mencintai limit.

Guys, coba lo bayangin betapa buruknya dunia ini kalo nggak ada limit. Semua hal akan berlebihan, nggak ada keistimewaan bagi orang-orang yang berhasil lolos dari limit. Terus kalo nggak ada limit, matematika pasti nggak akan terasa seindah ini, karena pasti akan banyak nilai-nilai menuju tak hingga dan discontinue yang nggak bisa dicari penyelesaiannya. See, betapa indahnya limit menjadikan hal yang nggak ada itu ada :)

Balik lagi ke dalam kehidupan gua. Pagi ini lagi-lagi gua nyaris ketinggalan kereta, ya sebenernya sih kalo nggak naik kereta ini gua masih bisa naik kereta selanjutnya, tapi bisa dipastikan gua akan terlambat masuk kelas. Beberapa detik sebelum pintu kereta ditutup, gua berhasil masuk ke dalamnya. Well, how beautiful the limit.

Karena waktunya udah terbatas banget, gua pun harus sedikit berlari dari stasiun kereta sampe ke kelas gua. Entah kenapa mungkin hari ini gua kurang beruntung, gua harus tabrakan di depan koridor sama seorang cowok yang kayaknya nggak pernah gua liat sebelumnya, gua yakin dia bukan temen sefakultas gua. Karena tabrakannya lumayan keras ya gua sempet jatoh dan buku-buku gua berserakan, buku dia pun juga.

“Sorry ya, gua nggak sengaja,” kata cowok itu. Gua udah nggak peduli sama sekali, yang gua pedulikan saat ini adalah mengambil 4 buah buku yang tercecer di lantai dengan tulisan “Limit” dan langsung masuk ke dalam kelas, karena kalo nggak pasti gua akan terlambat dan nggak boleh masuk kelas. Untungnya, batas masih berpihak pada gua. Gua berhasil berdiri di depan pintu kelas saat dosen mau nutup pintu, ya jadi gua masih boleh masuk deh. Nggak cuma di awal hari, entah kenapa sepanjang hari di sepanjang kehidupan gua hingga detik ini, semuanya selalu berbatas oleh waktu dan lagi-lagi batas itu berpihak pada gua.

Kuliah selesai, gua balik ke rumah dan sampe kamar pukul 20:37. Gua langsung mandi dan belajar untuk kuis besok, yap apalagi kalo bukan tentang limit. Gua mulai me-review dari buku-buku yang gua punya. Ya emang isinya nggak beda jauh sih tapi ada beberapa contoh soal berbeda yang membuat gua lebih paham akan materinya.

Meskipun jam di kamar udah menunjukan pukul 02:05 entah kenapa gua belum ngantuk. Bahkan gua udah me-review 3 buku, jadi saatnya berlanjut ke buku yang terakhir. Agak aneh sih, kayaknya gua nggak pernah lihat buku yang ini sebelumnya, kayaknya ini bukan buku gua deh. Bener aja, pas gua buka halaman judulnya di sana tertulis nama “Pradika Dimas Wardhana”. Fix, ini bukan buku gua, tapi dari mana gua dapetnya.

Setelah gua coba mengingat-ingat lagi, yap barulah gua sadar mungkin ini punya cowok yang tadi tabrakan sama gua, mungkin buku kita ketuker. Tapi nggak apa-apalah gua juga udah menyelesaikan buku yang ada di dia sekarang, ya anggap aja ini untuk nambah pengetahuan gua tentang limit.

Gua mulai membuka setiap bukunya mulai dari kata pengantar. Saat itulah gua mulai menemukan keganjilan, kayaknya ini bukan buku limit kayak gua punya deh. Bahkan di kata pengantarnya pun nggak membahas tentang matematika sama sekali. Well, karena penasaran, gua lanjutin ke halaman selanjutnya dan mulai membaca paragraph awal, yang isinya kayak gini :

Limit atau dalam bahasa Indonesia berarti batas. Sebenarnya mengapa limit ada? Hal-hal apa saja yang membentuk limit? Bagaimana keberpihakan limit kepada kita? Coba tinjau, analisa dan resapi. Bayangkan betapa indahnya dunia ini tanpa ada limit. Semua orang menjadi makhluk yang immortal, mereka bebas untuk menggunakan sumberdaya apapun, kapanpun, karena tidak ada kekhawatiran batas habis.
Pernahkah kalian merasa dihakimi batas? Saat kalian telah mencoba dengan sekuat tenaga untuk mencapai suatu hal, namun karena ada limit semuanya sia-sia? Ya, saat itulah limit tidak berpihak pada kita. Bayangkan, betapa indahnya dunia ini tanpa limit.

Huh, buku macam apa ni? Beda banget sama pandangan gua tentang limit selama ini. Karena gua cukup muak untuk membaca setiap paragrafnya, gua langsung menuju halaman terakhir aja. Disana gua menemukan tulisan tangan yang cukup berantakan, ya tapi masih kebaca sih dan bertuliskan ini :

Buku ini benar, limit emang nggak seharusnya ada. Betapa seringnya gua harus kecewa karena limit. Kenapa Tuhan harus menciptakan limit? Untuk apa? Disaat kita juga harus mengekplorasi hal yang kita miliki tanpa batas. Andaikan nggak ada limit untuk apapun itu, mungkin… segalanya menjadi lebih indah.

Setelah kalimat-kalimat itu, terlihatlah tulisan tangan yang sangat tegas dan jelas bertuliskan “Limit, I Hate You!”. Karena gua sangat percaya akan hukum tarik-menarik semesta, gua pun langsung menutup buku itu dan beranjak tidur. Gua nggak mau ujian gua gagal hanya karena terdoktrin oleh kalimat terakhir itu.

Alarm gua bunyi pukul 05:30, seperti biasa. Karena udah terbiasa untuk tidur maksimal 5 jam dalam sehari, jadi gua udah sama sekali nggak ngantuk. Gua pun langsung ngeberesin segala hal untuk kuliah dan kembali menjalankan rutinitas biasa. Meskipun gua udah bangun cukup pagi, tapi hal ini nggak membuat gua bisa bersantai menuju limit, gua tetep harus gerak cepet karena perjalanan dari rumah ke kampus cukup jauh. Well, syukurlah lagi-lagi gua dapet kereta yang membuat gua nggak terlambat masuk kelas dan masuk kelas tepat sebelum dosen mentup pintu.

Hari ini gua nggak akan pulang malem, karena nyokap minta gua pulang lebih awal untuk bantuin masak makan malam. Sore ini pun gua nggak akan pulang sendiri, gua akan pulang sama Kiki karena sebenernya kita tetanggaan, cuma karena gua selalu pulang malem aja makanya kita nggak pernah pulang bareng.

“Tumben banget deh lo, La, pulang jam segini?” tanya Kiki.

“Iya nih, Ki. Kebetulan hari ini gua lagi nggak ada rapat dan emang nyokap gua minta gua untuk pulang lebih awal.”

“Oh gitu. Eh La,La, cepetan yuk kayaknya bentar lagi keretanya akan masuk deh dan kalo kita nunggu, kita harus nunggu minimal 45 menit lagi.”

“Serius lo Ki?”

“Iya, La. Kereta yang belakangnya tuh jauh, yuk cepetan yuk.”

Lagi-lagi gua harus menghampiri limit, tapi gua optimis untuk menaklukannya. Gua dan Kiki pun sedikit berlari untuk sampe ke stasiun. Betul aja kereta yang menjadi target kita udah standby di sana. Kiki lari di depan gua dan langsung masuk ke dalam kereta. Tapi saat gua mau naik, tiba-tiba seorang lelaki keluar dari pintu itu dan nabrak gua, sehingga gua nggak bisa naik. Dan pintu kereta pun tertutup sempurna.

“Limit,” kata gua dan cowok itu barengan. Gua langsung ngeliat mukanya, seketika gua inget kalo dia adalah cowok yang waktu itu nabrak gua dan bukunya ketuker.

“Hai,” kata dia dengan wajah sumringah. Ya jelas aja gua nggak bisa menunjukan wajah yang sama karena udah bete banget ketinggalan kereta karena dia dan gua harus menunggu minimal 45 menit untuk kedatangan kereta selanjutnya.

“Sorry ya, karena gua lo jadi ketinggalan kereta.” Napasnya masih nggak menentu, gua yakin dia berjuang sekuat tenaga untuk keluar dari kereta tadi.

Handphone gua bordering, ada pesan dari Kiki:
“Sorry ya La, gua duluan. Lo nggak apa-apa nunggu sendiri? Atau gua harus balik untuk nemein lo?”

Gua pun langsung bales :
“Nggak apa-apa kok Ki, nggak perlu balik. Hati-hati di jalan ya, Ki.”

Kiki pun membalas :
“Maafin semua kesalahan gua ya La, beneran deh gua nggak bermaksud ninggalin lo. Lo juga hati-hati di jalan. Titip salam untuk nyokap lo ya, La:’)”

Dan untuk terakhir kalinya gua membalas :
“ sip :)”

“Jadi, lo harus nunggu lama ya untuk kereta selanjutnya?” kata cowok nyebelin yang membuat gua ketinggalan kereta.

“Iya.”

“Ohya, La, gua bawa buku lo, lo bawa buku gua nggak?”

“Eh lo tau nama gua darimana?”

“Ya, gua kan baca buku lo dan ada nama lo di sana. Lalina Anastasya, kan?”

“Iya, panggil aja gua Lala. Ngapain lo baca buku gua, itukan buku matematika, emang lo suka matematika?”

“Bukan matematikanya, sih, judulnya membuat gua tertarik.”

“Ohya, buku lo ada di loker, gua tinggal di kampus,” kata gua nggak mau basa-basi.

“Lo, keberatan nggak kalo balik lagi ke kampus dan ambil buku gua? Please… gua butuh banget buku itu.”

Sumpah demi apapun, dia adalah orang termenyebalkan yang pernah gua temui semasa hidup gua.  Ya gimana enggak coba dia udah ngebuat gua ketinggalan kereta dan sekarang dengan semena-mena dia minta gua untuk balik lagi ke kampus ngambil bukunya yang ada di loker gua. Super nyebelin, bisa-bisanya Tuhan mempertemukan gua sama orang mace mini.

“Ayolah, La, please. Sebenernya bukan bukunya sih, tapi ada sesuatu yang gua selipin di tengah bukunya yang sangat gua butuhkan saat ini. Ya, ya, ya.”

“Oke,” kata gua setengah nggak ikhlas. Kita pun akhirnya keluar dari stasiun dan jalan balik ke kampus. Kalo aja kereta selanjutnya langsung ada, pasti gua nggak akan mau deh balik lagi ke kampus untuk ngambil buku dia.

“Kayaknya lo punya pemikiran berbeda tentang batas ya sama gua,” katanya.

“Ya, yang gua lihat sih gitu. Ohya siapa nama lo?”

“Gua Dimas.”

“Ohya Dimas, asal lo tau ya, ini adalah pertamakalinya gua gagal menaklukan limit.”

“Ohya? Gua justru sebaliknya, ini adalah pertama kalinya gua berhasil menaklukan limit. Tadi gua ketiduran dan nggak sadar kalo udah sampe, apalagi satu jam lagi gua akan ada ujian, entah kenapa gua merasa beruntung aja hari ini. Ohya, La, makasih banyak ya, buku lo menambah pengetahuan gua banget tentang limit di matematika. Dan catetan terakhir lo sih yang membuat gua memandang limit sebagai hal yang berbeda.”

“Lo baca catetan terakhir gua? Emang gua nulis apa ya di sana?”

“Iya gua bahkan hapal kok. Lo bilang, kenapa limit itu indah. Keberadaannya membuat segala hal di dunia ini menjadi nyata. Keberadaannya dapat mengklasifikasi orang-orang yang benar berjuang dalam hidupnya. Karena limit-lah keajaiban itu terlihat nyata. Karena limit-lah aku percaya Tuhan itu ada. Limit, I Love You!”

Gila, gua nggak nyangka dia bisa inget setiap detil kata yang gua tuliskan di sana. Gua yakin dia nggak terlalu fokus sama konsep limit yang ada di dalam buku matematika gua, tapi justru dia fokus sama tulisan yang ada di belakang buku gua.

“Lo udah liat catetan gua di halaman terakhir, belum?”

“Udah kok. Sesaat sebelum gua ketinggalan kereta, gua masih nggak ngerti kenapa lo bisa membenci limit. Tapi sekarang, gua bisa memandang limit dari sisi yang berbeda. Dan gua rasa, selama ini gua hanya terlalu beruntung, sehingga gua mengabaikan untuk apa sebenarnya limit itu ada.”

“Justru kebalikannya, La. Gua sekarang ngerti kenapa lo sangat mencintai limit. Karena sebenernya nggak pernah ada limit di dalam hidup lo, ya kan? Lo selalu terbebas dari limit,” kata Dimas diiringi senyum. “Lo terlalu beruntung, La.”

“Iya, lo bener Dim, gua cuma beruntung, bahkan gua nggak pernah menyentuh limit.”

Setelah sampe di depan loker, gua pun langsung balikin buku Dimas dan dia langsung balikin buku gua. Handphone gua berdering, telepon dari nyokap.

“Kenapa, Ma?”

“Kamu nggak pulang bareng Kiki, kan, La? Kamu nggak apa-apa kan, La?” tanya Mama terdengar panik.

“Enggak kok, Ma. Kenapa emangnya ma?”

“Syukurlah, Mama khawatir banget. Kereta yang dinaikin Kiki mengalami kecelakaan, La. Baru aja Mama-nya Kiki dapet kabar.”

Gua pun langsung nutup telepon dari Mama. Gua nggak ngerti lagi harus bilang apa dan merasa gimana. Dimas pun pasti melihat perbedaan ekspresi wajah gua.

“Kenapa, La?”

Gua diam sejenak, bingung harus bilang apa, air mata gua udah mulai tergenang.

“La?”

“Dim, kereta yang tadi lo naikin. Yang dinaikin sama temen gua sekarang mengalami kecelakaan, Dim. Dia ada di sana.”

Dimas juga diam, nggak menjawab apapun, mungkin dia ngerti apa yang lagi gua pikirin saat ini.

“Lo bener, Dim. limit nggak selamanya menguntungkan. Buat apa ada limit. Seandainya tadi gua dan Kiki dateng lebih dari limit, mungkin nggak akan kayak gini. Untuk apa hidup ada limitnya, untuk apa?”

“Lo nggak boleh gitu, La. Seenggaknya lo harus bersyukur atas satuhal. Seandaikan limit nggak ada, mungkin sekarang gua masih ada di dalam kereta itu, begitu juga lo. Dan kita, sampai pada limit hidup kita. Gua turut berduka atas temen lo, La.”

Gua pun langsung berjalan meninggalkan Dimas menuju tempat di mana gua bisa sendiri. Gua kembali merenungkan tentang limit. Kenapa terkadang kehadirannya terasa sangat menguntungkan, namun terkadang malah sebaliknya.

Limit, haruskah engkau ada?